Semua Artikel
UMRAH14 menit baca

Kisah Taubat di Tanah Suci yang Mengajarkan Arti Hidayah

Kisah Taubat di Tanah Suci yang Mengajarkan Arti Hidayah - Ada pengalaman umrah yang tidak selesai ketika pesawat pulang ke Indonesia. Artikel ini mengajak Anda melihat kisah taubat di tanah suci yang mengajarkan arti...

20 Juli 2026

Kisah Taubat di Tanah Suci yang Mengajarkan Arti Hidayah - Ada pengalaman umrah yang tidak selesai ketika pesawat pulang ke Indonesia. Artikel ini mengajak Anda melihat kisah taubat di tanah suci yang mengajarkan arti...

Ringkasnya, artikel ini membantu calon jamaah memahami poin penting sebelum memilih fasilitas perjalanan umroh.

Kisah Taubat di Tanah Suci yang Mengajarkan Arti Hidayah

Ada pengalaman umrah yang tidak selesai ketika pesawat pulang ke Indonesia. Artikel ini mengajak Anda melihat kisah taubat di tanah suci yang mengajarkan arti hidayah sebagai bekal hati, bukan sekadar cerita perjalanan.

Di sebuah kota di Saudi, seorang wanita tinggal dan hidup bersama suami dan anak-anaknya. Rumah mereka berdampingan betul dengan sebuah masjid. Namun disayangkan sekali, Allah mengujinya dengan seorang suami yang pemabuk.

Tidak berlalu satu atau dua hari, kecuali sang suami pasti memukulnya dan anak-anaknya, bahkan mengusirnya hingga ke jalan. Hampir semua warga di lingkungan tempat tinggal mereka sebenarnya sangat mengasihaninya dan anak-anaknya. Apalagi jika mereka melewati rumahnya. Hampir setiap hari mereka masuk ke masjid untuk menunaikan shalat, namun setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing tanpa memberikan bantuan apapun, meski dengan sebuah kalimat penghibur hatinya.

Betapa seringnya mereka melihat dan menyaksikan wanita malang itu bersama anak-anak kecilnya duduk di samping pintu rumahnya untuk menunggu sang suami yang pemabuk itu membukakan pintu dan menyuruhnya masuk, setelah sebelumnya ia mengusirnya bersama anak-anak. Namun itu hanya sebuah penantian yang sia-sia.

Akhirnya, jika wanita malang itu memastikan bahwa suaminya telah tidur, ia akan menyuruh salah seorang anak laki-lakinya untuk meloncat ke dalam dan membuka pintu rumah itu dari dalam. Ia akan segera masuk ke dalam rumahnya lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar dan menguncinya untuk menunggu hingga suaminya sadar dari mabuknya. Dan di situ, wanita malang itupun mulailah mengerjakan shalat dan menangis di hadapan Allah agar memberikan hidayah dan ampunan bagi suaminya.

Tidak seorang pun jamaah masjid itu—baik imam maupun muadzinnya—yang mampu berbicara kepada suami pemabuk itu dan memberinya nasihat, walau demi sang wanita dan anak-anaknya yang telah tersiksa dengan itu semua. Belum lagi bahwa mereka pun tahu pria pemabuk itu selain tidak takut kepada Allah dan suka mengganggu, ia juga mempunyai banyak masalah dengan tetangga-tetangga di lingkungan tinggalnya. Hatinya sangat keras.

Dan wanita malang itu tidak putus-putusnya mendoakan suaminya yang pemabuk itu di sepertiga akhir malam. Ia memohon kepada Allah dengan Nama-Nama-Nya yang mulia agar menerangi hati suaminya dengan hidayah iman. Hari-harinya ia gunakan untuk mendoakan yang terbaik bagi suaminya, sementara ia dan anak-anaknya terus merasakan siksaan itu dan tidak seorang pun yang mengasihani mereka atas semua musibah itu, selain Allah. Tidak ada saudara, ayah dan ibu yang mengayomi. Semuanya berlepas diri darinya. Semuanya tidak pernah merasakan kehadiran dan persoalannya. Ia seakan menjadi sosok yang terbuang dari tetangga dan keluarganya, akibat perilaku sang suami.

Pada suatu hari, ketika wanita malang itu mengunjungi salah seorang kawannya yang tinggal di lingkungan lain; kepada kawan yang mau membuka hatinya untuk mendengarkan keluh kesahnya itu ia menceritakan semua penderitaannya. Tentang apa yang dilakukan oleh suaminya kepada dirinya dan anak-anaknya ketika ia sedang dipengaruhi oleh minuman keras. Kawan itu sungguh bersimpati dengan apa yang dialaminya.

"Tenanglah, aku akan menyampaikan kepada suamiku agar menemui dan menasihatinya," ujarnya. Dan suaminya adalah pemuda shalih yang bijak, menyenangi kebaikan untuk orang lain. Ia juga menghafal Al Qur'an dan senang beramar ma'ruf nahi munkar.

Wanita yang malang itupun setuju dengan syarat kawannya itu tidak memberitahu bahwa dialah yang memintanya melakukan hal tersebut, karena jangan sampai suaminya yang pemabuk itu kemudian marah, memukulnya lalu mengusirnya keluar dari rumah ke jalanan untuk kesekian kalinya jika mengetahui itu semua. Sang kawan itu sepakat bahwa rencana ini adalah rahasia antara mereka berdua saja.

Usai shalat isya, suami sang kawan itu pun langsung pergi menemui suami wanita malang itu. Ia mengetuk pintu rumahnya dan tidak lama kemudian pria pemabuk itu keluar dengan langkah gontai karena mabuk. Ia membuka pintu dan ternyata disana ia menemukan seorang pria yang sangat bersih, jenggotnya panjang dan hitam, wajahnya memancarkan cahaya, dan kelihatannya usianya belum sampai 25 tahun. Sementara pria pemabuk yang usianya telah mencapai 40 tahun itu di wajahnya hanya nampak tanda-tanda kemarahan dan jauh dari Allah. Ia memandang sang pengetuk pintu rumahnya dan bertanya:

"Siapa kamu? Dan apa yang engkau inginkan?"

"Saya fulan bin fulan. Saya mencintai Anda karena Allah dan saya sengaja datang untuk mengunjungi Anda…," jawab pria muda itu dengan santun.

Namun, belum lagi ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba pria mabuk itu meludahi wajahnya dan mengeluarkan cacian serta makiannya. "Semoga Allah melaknatmu, wahai anjing!! Ini bukan waktunya untuk berkunjung! Pergi sana!!" umpatnya penuh kemarahan.

Dari mulut pemabuk itu menyeruak aroma minuman keras, hingga seakan-akan seluruh lingkungan itu dipenuhi dengan aromanya yang menjijikkan.

Pemuda shalih itu kemudian mengusap ludah yang menempel di wajahnya dan berkata: "Jazakallah khairan (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Mungkin aku memang salah karena datang pada waktu yang tidak tepat. Tapi, saya akan datang lagi untuk mengunjungi Anda di waktu lain, insya Allah."

"Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi! Jika engkau datang lagi, aku akan mematahkan lehermu!!" jawab pemabuk itu sambil membanting pintunya.

Sang pemuda shalih itupun kembali ke rumahnya sembari berkata: "Alhamdulillah, Allah telah memberikan ludah ini di jalan-Nya. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku kesempatan mendapatkan cacian dan penghinaan ini di jalan agamaku…"

Di dalam hatinya, ia telah bertekad untuk menyelamatkan wanita itu beserta anak-anaknya dari penderitaan mereka. Ia merasa bahwa seluruh dunia ini akan membuka pintu untuknya jika ia dapat menyelamatkan keluarga itu dari kehancuran. Ia pun mulai mendoakan si pemabuk itu di saat-saat doa mudah dikabulkan. Ia memohon kepada Allah agar menolongnya untuk menyelamatkan keluarga itu dari penderitaan abadinya. Kesedihan memenuhi rongga hatinya, dan kini yang menjadi obsesinya hanyalah bagaimana melihat si pemabuk itu termasuk orang-orang yang mendapatkan hidayah.

Ia kemudian berusaha mengunjungi pria pemabuk itu beberapa kali, namun ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali seperti yang sebelumnya ia telah dapatkan. Sampai akhirnya, pada suatu waktu, ia bertekad tidak akan pergi dari depan rumah pemabuk itu kecuali setelah berbicara dan menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Ia pun mengetuk pintu rumahnya dan pria pemabuk itu pun keluar dalam keadaan mabuk seperti biasa.

"Bukankah aku telah mengusirmu dari sini berkali-kali?! Kenapa engkau keras kepala dan selalu datang lagi padahal aku sudah mengusirmu?!!!" teriaknya.

"Benar sekali. Tapi aku mencintaimu karena Allah, dan aku ingin duduk denganmu meski beberapa menit saja, Sebab Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah mengatakan: 'Barangsiapa mengunjungi saudaranya karena Allah, maka akan menyeru penyeru di langit; Engkau telah melakukan kebaikan, dan langkahmu baik, maka engkau telah menempati surga sebagai tempat(mu).' (HR: At Tirmidzi dan Ibnu Majah)."

Si pemabuk itu mulai malu di hadapan desakan pemuda itu yang terus menerus meski harus mendapatkan semua perlakuannya.

"Tapi sekarang ini aku sedang minum, sementara engkau, dari wajahmu kelihatannya engkau adalah orang shalih. Aku tidak mungkin membiarkanmu melihat botol-botol minumanku, karena itu tidak layak untukmu…" ujarnya mulai melembut.

"Tidak apa-apa! Biarkan aku masuk ke tempat minummu dan melihat semua botol-botol minumanmu. Biarkan kita mengobrol sambil engkau meminum minumanmu, sebab aku tidak datang kesini untuk melarangmu minum. Aku hanya datang untuk mengunjungimu saja…" kata pemuda itu.

"Kalau demikian, silahkan masuk…" ujar sipemabuk itu.

Maka untuk pertama kalinya, pemuda itu masuk ke dalam rumah itu setelah berkali-kali semua perlakuan buruk dan pengusiran. Dan ketika itu, ia merasa sangat yakin jika Allah menghendaki sesuatu yang baik untuk pria itu.

Pemabuk itu mengajaknya masuk ke kamar tempatnya mengonsumsi minuman keras. Kepada pemabuk itu, pemuda tadi mulai menyampaikan keagungan Allah, tentang apa yang disiapkan Allah untuk kaum beriman di surga dan untuk kaum kafir di Neraka dan tentang taubat. Bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya yang bertaubat jika memohon hidayah pada-Nya. Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya. Jika seorang hamba-Nya yang pendosa bertaubat, maka Allah akan menjawab pintanya tiga kali dan tidak hanya sekali. Ia juga menyinggung pahala saling mengunjungi karena Allah.

Pemuda itu melihat air muka sang pemabuk menunjukkan tanda-tanda kebaikan. Pemabuk itu diam mendengarkan apa yang ia sampaikan dengan tenang. Dan pemuda itu tidak sekalipun menyinggung soal khamr (minuman keras) dan keharamannya, meskipun ia tahu bahwa meminumnya adalah sebuah dosa besar. Sampai ia pulang, tak satu kalimat pun tentang khamr yang diucapkannya. Pemuda itu pulang setelah meminta kepada sang pemabuk itu untuk mengizinkannya untuk berkunjung dan berkunjung lagi. Dan ia setuju. Pemuda itu pun pulang.

Beberapa hari setelah itu, sang pemuda kembali menemui sang pemabuk yang rupanya sedang mabuk. Namun baru saja ia mengetukkan pintu rumah itu, segera saja sang pemabuk itu menyambut dan mempersilahkannya masuk ke tempat ia biasa meminum minuman kerasnya. Ia kemudian mulai berbicara tentang surga dan apa yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang bertaubat dan menyesali dosanya. Ia memperhatikan bahwa si pemabuk ini sudah mulai berhenti meminum minumannya jika ia sedang berbicara.

Pemuda itu merasa semakin dekat dengannya dan perlahan-lahan ia mulai menghancurkan gelas demi gelas minuman keras itu di dalam hatinya perlahan-lahan. Dan ketidak berlanjutannya meminum adalah pertanda bahwa ia mulai memahami apa yang diucapkannya. Pemuda itu kemudian mengeluarkan sebuah botol parfum yang sangat mahal dari kantongnya. Ia memberikannya sebagai hadiah kepada si pemabuk itu dan segera keluar dari rumah tersebut. Hari itu, ia sangat bahagia dengan apa yang berhasil dilakukannya dalam kunjungan kali itu. Ada perkembangan yang berarti…

Beberapa hari kemudian, ia kembali mendatangi pria pemabuk itu dan ia menemukannya telah mengalami perubahan yang luar biasa. Meskipun ia masih dalam keadaan mabuk berat, namun keadaannya telah jauh berbeda.

Kali ini, setelah pemuda itu berbicara tentang Surga dan Neraka, pemabuk itu menangis seperti anak-anak sambil berujar: "Allah pasti tidak akan menerima taubatku! Allah pasti tidak akan mengampuniku! Aku ini membenci ulama, membenci orang-orang shalih, bahkan membenci semua orang! Bahkan membenci diriku sendiri! Aku ini binatang pemabuk! Allah tidak akan mau menerimaku, tidak akan mau menerima taubatku meskipun aku bertaubat. Kalau Allah mencintaiku, Ia tidak akan membiarkanku meminum minuman keras ini. Ia tidak akan membuatku dalam kondisi ini, kedurjanaan yang kujalani selama bertahun-tahun lalu…"

Sambil memeluknya, pemuda shalih itu berkata padanya: "Allah akan menerima taubatmu. Dan orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa. Pintu taubat itu akan selalu terbuka, tidak ada seorang pun yang dapat menghalangimu dengan Allah. Kebahagiaan itu sepenuhnya adalah dalam agama ini. Apa yang akan terjadi di hari esok pasti jauh lebih indah jika engkau memohon hidayah pada Allah dengan hati yang sungguh-sungguh. Tidak ada yang harus engkau lakukan kecuali memohon hidayah pada Allah dengan hati yang ikhlas. Allah pasti akan menerimamu…"

Ia kemudian mengatakan bahwa ia akan melakukan perjalanan ke Makkah dengan beberapa orang kawannya. Ia menawarkan kepada sang pemabuk itu untuk ikut serta. Namun si pemabuk itu berkata: "Tapi aku ini pemabuk. Kawan-kawanmu pasti tidak mau aku menyertai mereka dalam perjalanan ini…"

"Jangan berpikir begitu! Mereka mencintaimu seperti aku juga demikian. Tidak akan menjadi masalah bagi mereka jika engkau menyertai mereka dengan kondisimu seperti ini. Kita akan pergi ke Makkah untuk menunaikan umrah. Begitu selesai, kita akan segera kembali ke kota ini. Kami akan sangat berbahagia dengan keberadaanmu di sepanjang perjalanan kami…" ujar pemuda shalih itu.

Sang pemabuk itu berkata, "Apakah kalian akan mengizinkan aku untuk membawa botol-botol minumanku bersama kalian, karena aku tidak bisa berpisah darinya sekejap pun?"

Dengan sangat gembira, pemuda shalih itu menjawab: "Bawalah bersamamu jika memang ia harus dibawa!"

Pandangan pemuda shalih itu sangat jauh ke depan, meskipun resikonya sangat besar jika ia membawa botol-botol minuman itu di dalam mobilnya. Apalagi dengan membawa serta seorang pemabuk dan dalam kondisi mabuk pula. Sebab perjalanan ke Makkah dipenuhi pos-pos pemeriksaan polisi. Namun ia memilih untuk mengambil resiko itu demi menyelamatkan wanita malang itu bersama anak-anaknya. Karena siapa yang berusaha untuk mewujudkan suatu tujuan yang agung, semua masalah menjadi kecil dalam pandangannya.

"Bangunlah sekarang lalu mandi dan berwudhulah, kemudian kenakan pakaian ihrammu…," ujar pemuda itu pada sang pemabuk.

Pemuda itu keluar menuju mobilnya untuk mengambilkan pakaian ihram khusus miliknya untuk pria pemabuk itu. Biarlah ia nanti membeli yang lain lagi untuk ia kenakan. Setelah pria pemabuk itu mulai bersiap-siap, ia menemui istrinya dan berkata: "Aku akan pergi ke Makkah untuk menunaikan umrah bersama beberapa orang Syaikh…"

Binar-binar kebahagiaan segera memancar di wajah wanita itu ketika mendengarkan ucapan itu. Ia segera menyiapkan tas suaminya. Pria pemabuk itu segera mandi dan mengenakan pakaian ihramnya, meski ia masih dalam kondisi mabuknya.

Pemuda shalih itu menyuruhnya bergegas, jangan sampai kemudian ia berubah pikiran lagi untuk tidak ikut serta bersama mereka untuk bersama-sama menunaikan umrah. Ia benar-benar tidak percaya telah mendapatkan kesempatan besar untuk hanya berdua dengan sang pemabuk itu dan menjauhkannya dari kondisi yang mengingatkannya untuk mabuk dan juga dari kawan-kawan jahatnya. Kalau saja ia sadar, boleh jadi ia tidak akan mau ikut atau setan akan berusaha menahannya dari pintu lain sehingga tidak mau ikut serta menunaikan umrah bersamanya. Setelah menghubungi kawan-kawannya, pemuda itu segera pergi menjemput mereka untuk bersama-sama pergi menunaikan umrah.

Tidak lama kemudian, mobil itupun meluncur menuju Makkah. Pemuda shalih itu yang menyetirnya dan disampingnya duduk pria pemabuk itu. Sementara di kursi belakang duduklah dua orang kawannya yang ikut serta bersama mereka. Sepanjang perjalanan ia terus membaca surah-surah pendek dan beberapa hadits Nabi dari kitab Shahih Al Bukhari, dan semuanya membahas tentang taubat.

Sementara pria pemabuk itu sama sekali tidak tahu bagaimana membaca surah Al Fatihah. Ketika giliran membaca itu sampai padanya, ketiga kawan perjalanannya itu harus membacakan surah itu tiga kali untuk membenarkan bacaannya yang salah tanpa harus mengatakan: "Kamu salah!" atau "Tidak masuk akal ada orang yang salah dalam membaca surah Al Fatihah." Demikianlah hingga akhirnya mereka selesai membaca surah-surah pendek beberapa kali dan juga membaca Hadits-hadits tentang keutamaan amal shalih, dan pria pemabuk itu mendengarkan dengan tenangnya…

Dan sebelum tiba di Makkah, ketiga sahabat itu sepakat bahwa mereka tidak akan masuk ke kota Makkah kecuali jika kawan pemabuk itu telah benar-benar sadar dari mabuknya. Mereka memutuskan untuk bermalam di salah satu tempat peristirahatan dengan alasan kelelahan dan ingin tidur dulu hingga Shubuh menjelang, untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka.

Sang pemabuk itu mendesak mereka bahwa ia bisa menyetir mobil itu jika mereka ingin tidur di dalam mobil itu sepanjang perjalanan, karena ia tidak bisa tidur sama sekali. Namun mereka mengatakan: "Terima kasih, Jazakallah khairan dan semoga Allah memberkahimu. Tapi kami ingin menikmati perjalanan ini bersamamu. Biarlah kita menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama."

Ia pun terpaksa menyetujuinya. Mereka akhirnya masuk ke salah satu tempat peristirahatan di pinggir jalan. Mereka menyiapkan sebuah alas tidur untuk kawan pemabuk mereka dan mereka sengaja mengaturnya tidur di antara mereka agar ia dapat melihat apa yang nanti mereka kerjakan. Mereka kemudian membahas etika tidur dan bagaimana mereka tidur sesuai dengan sunnah sebagaimana Nabi shalallahu alaihi wasallam tidur. Kawan pemabuk itu memperhatikan dan mengikuti apa yang mereka lakukan, hingga beberapa menit kemudian ia pun tertidur dengan lelapnya.

To be Continued — Lanjut Part 2

Sumber: Buku Chicken Soup for Muslim Youth, Penerbit Sukses Publishing

Kesimpulan

Dengan persiapan yang tepat, ibadah umroh bisa dijalani lebih tenang, tertib, dan bermakna. Jika masih ragu memilih waktu, paket, atau kebutuhan dokumen, calon jamaah dapat berkonsultasi dengan tim Sahabat Qolbu agar perjalanan lebih terarah sejak awal.

Komentar

Belum ada komentar di perangkat ini.