Bahaya Riya dan Selfie Berlebihan saat Haji atau Umrah
Bahaya Riya dan Selfie Berlebihan saat Haji atau Umrah - Umrah adalah perjalanan ibadah yang membutuhkan persiapan lahir dan batin. Artikel ini membahas bahaya riya dan selfie berlebihan saat haji atau umrah dengan...
20 Juli 2026
Bahaya Riya dan Selfie Berlebihan saat Haji atau Umrah - Umrah adalah perjalanan ibadah yang membutuhkan persiapan lahir dan batin. Artikel ini membahas bahaya riya dan selfie berlebihan saat haji atau umrah dengan...
Ringkasnya, artikel ini membantu calon jamaah memahami poin penting sebelum memilih fasilitas perjalanan umroh.
Bahaya Riya dan Selfie Berlebihan saat Haji atau Umrah
Umrah adalah perjalanan ibadah yang membutuhkan persiapan lahir dan batin. Artikel ini membahas bahaya riya dan selfie berlebihan saat haji atau umrah dengan bahasa yang mudah dipahami agar calon jamaah bisa mengambil manfaatnya sejak sebelum berangkat.
Bahaya Riya dan Selfie Berlebihan Saat Haji atau Umrah Haji dan umrah adalah ibadah yang sangat mulia. Ia merupakan bentuk nyata dari ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya. Ketika seseorang berangkat ke Tanah Suci, sejatinya ia sedang melakukan perjalanan spiritual untuk menyucikan diri, memperbarui iman, dan menyempurnakan Islamnya. Namun, di tengah era digital dan maraknya media sosial, ibadah suci ini kadang tercemar oleh riya dan kecenderungan berlebihan dalam mengambil foto. Fenomena jamaah haji atau umrah yang sibuk mengambil gambar diri (selfie), memvideokan thawaf, atau memperlihatkan momen -momen ibadah ke media sosial semakin marak. Di balik aktivitas tersebut, ada bahaya besar yang kadang tidak disadari: riya' —beribadah b ukan karena
Allah, tetapi demi dilihat manusia.
Apa Itu Riya'?
Secara bahasa, riya’ berasal dari kata رأى (ra'aa) yang berarti melihat. Dalam istilah syar'i, riya’ adalah melakukan suatu amalan ibadah dengan niat agar dilihat atau dipuji oleh manusia, bukan semata -mata untuk Allah. Di dalam al Qur`an dan as Sunah banyak sekali ancaman tentang bahaya riya’. Riya’ termasuk kedurhakaan hati yang sangat berbahaya terhadap diri, amal, masyarakat dan umat. Dan ia juga termasuk dosa besar yang merusak. Di antara bahaya riya’ adalah sebagai berikut:
- Riya’ Lebih Berbahaya Bagi Kaum Muslimin Daripada Fitnah Masiih Ad Dajjal.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَالَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ قَالَ قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الش ِرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَل ِيْ فَيُزَي ِنُ صَالَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُل “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,”Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu menghiasi (memperindah) shalatnya, karena ada orang yang memperhatikan shalatnya”. [HR Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits Abu Sa’id al Khudri. Hadits ini hasan -Shahih at Targhib wat Tarhib, no. 30]
- Riya’ Lebih Sangat Merusak Daripada Serigala Menyergap Domba
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِالَ فِيْ غَنَم بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَ الشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda: “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dan dilepaskan di tengah sekumpulan domba lebih merusak daripada ketamakan seorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya”. [HSR Ahmad, III/456; Tirmidzi, no. 237 6; Darimi, II/304, dan yang lainnya dari Ka’ab bin Malik]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan permisalan rusaknya agama seorang muslim karena tamaknya kepada harta, kemuliaan, pangkat dan kedudukan. Semua ini menggerakkan riya’ di dalam diri seseorang.
- Amal Shalih Akan Hilang Pengaruh Baiknya Dan Tujuannya Yang Besar Bila Disertai Riya’.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَل ِينَ ﴿٤ ﴾ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَالَتِهِمْ سَاهُونَ﴿٥ ﴾الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ﴿٦ ﴾وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ “Maka celakalah bagi orang yang shalat, (yaitu) orang -orang yang lalai dari shalatnya, orang - orang yang berbuat riya’ dan mencegah (menolong dengan) barang yang berguna”. [al
Ma’uun/107:4 -7]
Orang yang berbuat riya’ dan tidak mau menolong orang lain, karena shalat mereka tidak mempunyai pengaruh dalam hati mereka, sehingga mencegah kebaikan dari hamba -hamba Allah. Mereka hanyalah menunaikan gerakan -gerakan shalat dan memperindahnya, karena semua mata memandangnya, padahal hati mereka tidak memahami, tidak tahu hakikatnya dan tidak mengagungkan Allah. Karena itu, shalat mereka tidak berpengaruh terhadap hati dan amal. Riya’ menjadikan amal itu kosong tidak ada nilainya.
- Riya’ Akan Menghapus Dan Membatalkan Amal Shalih.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا الَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَن ِ وَاْلَْذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَالَ يُؤْمِنُ بِاَّللَِّ وَالْيَوْمِ اْلْخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَان عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْ دًا ۖ الَ يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْء مِمَّا كَسَبُوا ۖ وََّللاَُّ الَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Baca Juga Zuhudlah, Niscaya Engkau Dicintai Allah Dan Dicintai Manusia
“Hai orang -orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut -nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemud ian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petun ujuk kepada orang -orang kafir”. [Al-Baqarah/2:264].
Hati yang tertutup riya’ ibarat batu licin yang tertutup tanah. Orang yang berbuat riya’ tidak akan membuahkan kebaikan, bahkan ia telah berbuat dosa yang akan dia peroleh akibatnya pada hari Kiamat. Riya’ menghapuskan amal shalih, dan seseorang tidak mend apatkan apa -apa karenanya di akhirat nanti dari amal -amal yang pernah ia lakukan di dunia. Sebagaimana Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الش ِرْكُ اْلَصْغَرُ الر ِيَاءُ ، يَقُوْلُ هللاُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟! “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal -amal manusia “Pergilah kepada orang -orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR Ahmad, V/428 -429 dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/324, no. 4135 dari Mahmud bin Labid. Lihat Silsilah Ahaadits
Shahiihah, no. 951]
Pelaku riya’ akan memamerkan amalnya agar dipuji, disanjung dan mendapatkan kedudukan di hati manusia. Dia tidak akan mendapat ganjaran kebaikan dari Allah, dan tidak pula dari orang - orang yang memujinya, karena yang berhak memberi balasan hanya Allah saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الش ِرْكِ ، مَنْ عَمِلَ عَمَالً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ ، تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ “Aku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang dicampuri dengan perbuatan syirik kepadaKu, maka Aku tinggalkan dia dan (Aku tidak terima) amal kesyirikannya” [HR Muslim, no. 2985 dan Ibnu
Majah, no. 4202 dari sahabat Abu Hurairah)]
- Riya’ Adalah Syirik Khafi (Tersembunyi).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
أَالَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ ، قَالَ قُلْنَا بَلَى ، فَقَالَ: الش ِرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلُ يُصَل ِيْ فَيُزَي ِنُ صَالَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُل “Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih tersembunyi di sisiku atas kalian daripada Masih ad Dajjal?” Dia berkata,“Kami mau,” maka Rasulullah berkata, yaitu syirkul khafi; yaitu seseorang shalat, lalu ia menghiasi (memperindah) shalatnya, kare na ada orang yang memperhatikan shalatnya”.[HR Ibnu Majah, no. 4204, dari hadits Abu Sa’id al Khudri, hadits ini hasan -Shahih Ibnu Majah, no. 3389]
- Riya’ Mewariskan Kehinaan Dan Kerendahan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ ، سَمَّعَ هللاُ بِهِ مَسَامِعَ خَلْقِهِ ، وَصَغَّرَهُ وَحَقَّرَهُ “Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada orang lain (agar orang tahu amalnya), maka Allah akan menyiarkan aibnya di telinga -telinga hambaNya, Allah rendahkan dia dan menghinakannya”. [HR Thabrani dalam al Mu’jamul Kabiir; al Baihaqi dan Ahmad, no. 6509. Dishahihkan oleh Ahmad Muhammad Syakir. Lihat Shahiih at Targhiib wat Tarhiib, I/117, no. 25].
- Pelaku Riya’ Tidak Akan Mendapatkan Ganjaran Di Akhirat.
Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: بَش ِرْ هَذِهِ اْلُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالر ِفْعَةِ ، وَالد ِيْنِ ، وَ النَّصْرِ ، وَ التَّمْكِيْنِ فِي اْلَرْضِ ، فَمَنْ عَمِلَ مِنْهُمْ عَمَلَ اْلَخِرَةِ لِلدُّنْيَا ، لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي اْلَخِرَةِ نَصِيْبٌ “Sampaikan kabar gembira kepada umat ini dengan keluhuran, kedudukan yang tinggi (keunggulan), agama, pertolongan dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka melakukan amal akhirat untuk dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bagian di akhirat ”. [HR Ahmad, V/134; dan Hakim, IV/318. Shahih, lihat Shahih Jami’ush Shaghiir, no. 2825]
- Riya’ Akan Menambah Kesesatan Seseorang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Ta’ala berfirman:
يُخَادِعُونَ َّللاََّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِالَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ﴿٩ ﴾فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ َّللاَُّ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ “Mereka hendak menipu Allah dan orang -orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedangkan mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berd usta”. [al Baqarah/2:9 -10].
- Riya’ Merupakan Sebab Kekalahan Ummat Islam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّمَا يَنْصُرُ هللاُ هَذِهِ اْلُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَ صَالَتِهِمْ, وَ إِخْالَصِهِمْ “Sesungguhnya Allah akan menolong umat ini dengan orang -orang yang lemah, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka” [HSR an Nasa -i, VI/45, dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi
Waqqash][2]
Ikhlas karena Allah menjadi sebab ditolongnya umat ini dari musuh -musuh mereka. Allah melarang kita keluar berperang dengan sombong dan riya’, karena hal ini akan membawa kepada kekalahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلَِّللاَِّ ۖ وََّللاَُّ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang -orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah.
Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan”. [Al -Anfaal/8:47].
Haji dan Umrah: Ibadah yang Sangat Pribadi
Haji dan umrah bukanlah ajang pertunjukan. Ia adalah perjalanan spiritual yang sangat personal antara seorang hamba dan Tuhannya. Dalam ibadah ini, seseorang melepas status sosial, jabatan, bahkan pakaiannya diganti dengan ihram sebagai simbol kesetaraan d i hadapan Allah. Ketika seseorang justru menjadikan ibadah ini sebagai bahan konsumsi publik yang berlebihan, maka ruh ibadah itu hilang. Ia bukan lagi tentang taqarrub (pendekatan diri kepada Allah), tetapi tentang mencari validasi dari manusia.
Fenomena Foto Berlebihan saat Umrah & Haji
Di zaman media sosial, memotret dan membagikan kehidupan menjadi hal biasa. Namun, ada fenomena berlebihan yang tampak saat haji dan umrah:
- Selfie di depan Ka'bah dengan berbagai gaya dan ekspresi.
- Live update thawaf, sa’i, bahkan sedang berdoa.
- Berdiri di tengah jalan hanya untuk mencari angle foto terbaik.
- Memotret makanan, hotel, oleh -oleh secara detail lalu pamerkan di medsos.
- Posting testimoni seolah -olah perjalanan spiritualnya paling hebat.
Jika niatnya murni untuk dokumentasi pribadi, tak mengapa. Tapi ketika mulai muncul niat pamer, keinginan dilihat, dan kebanggaan duniawi, di situlah riya menyelinap masuk.
Bahaya Besar Riya dalam Ibadah
Menghapus pahala ibadah.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
"Aku paling tidak butuh kepada sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal dan menyekutukan Aku dalam amal itu dengan selain -Ku, maka Aku tinggalkan dia dan amalnya." (HR. Muslim) Ibadah yang tercampur riya menjadi tidak diterima, meski tampak luar biasa di mata manusia. Termasuk bentuk syirik kecil.
Syirik kecil adalah pintu menuju syirik besar. Jika seseorang membiarkannya, bisa
menghancurkan akidah.
Mengubah ibadah menjadi dosa. Alih-alih mendapat pahala haji mabrur, bisa jadi yang diperoleh hanyalah letih, capek, dan… status sosial di mata manusia, bukan di sisi Allah.
Menanam penyakit hati. Riya membuka pintu untuk ujub (kagum pada diri sendiri), sum’ah (ingin didengar), dan takabbur (merasa lebih baik).
Riya Era Digital: Likes & Komentar
Dulu, orang riya karena ingin dilihat oleh orang sekitar. Kini, riya menjelma dalam bentuk status, story, dan reels.
Contoh yang tampak kecil namun berisiko:
Menunggu waktu yang pas untuk upload foto di Raudhah demi engagement. Caption penuh kerendahan hati, tapi fotonya sengaja memperlihatkan momen dramatis.
Berkali -kali update lokasi di Masjid Nabawi.
Sebagian orang berkata, “Ini kan buat motivasi orang lain.” Ya, jika itu memang niat jujur dan ikhlas. Tapi kita tahu, niat itu perkara hati yang mudah sekali berubah arah tanpa disadari.
Bolehkah Foto -Foto Saat Umrah atau Haji?
Islam tidak secara mutlak melarang mengambil foto selama dilakukan dengan adab dan niat yang benar. Namun, ada batas -batas yang harus dijaga:
Boleh:
- Mengambil dokumentasi pribadi untuk kenangan.
- Mengabadikan momen keluarga bersama dengan niat syukur.
- Foto untuk edukasi (misalnya travel menjelaskan rute umrah).
Tidak boleh jika:
- Berniat pamer (tas, hotel, first class, oleh -oleh mahal).
- Mengganggu ibadah orang lain karena selfie.
- Membuka aurat atau menampilkan hal tidak pantas di tempat suci.
- Menunda ibadah demi dapat angle bagus.
Cara Menghindari Riya di Tanah Suci
Teguhkan niat hanya untuk Allah. Niat adalah pondasi. Setiap kali hendak ibadah, tanyakan pada diri: “Untuk siapa aku lakukan ini?” Jaga ibadah dari konsumsi publik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalnya, maka lakukanlah.” (HR. Muslim) Kurangi aktivitas media sosial selama ibadah. Gunakan waktu di Tanah Suci untuk mendekat pada Al -Qur’an, dzikir, dan tafakkur. Bukan scroll
Instagram atau TikTok.
Simpan dokumentasi untuk pribadi atau keluarga.
Tak semua momen harus dibagikan ke publik. Cukup Allah yang tahu amalan kita.
Ingat: Orang yang melihat belum tentu mendoakan. Bisa jadi ada yang iri, dengki, atau justru memunculkan ghibah. Lebih baik fokus pada penilaian Allah.
Penutup: Jaga Kesucian Ibadah dari Riya
Ibadah haji dan umrah adalah tamu agung kepada Allah. Jangan biarkan ibadah ini menjadi rusak karena kebutuhan pencitraan. Rasulullah ﷺ tidak pernah mencitrakan ibadah beliau, walau beliau adalah manusia terbaik. Beliau mengajarkan agar kita merahasiakan amal, karena
Allah melihat hati, bukan hanya aksi.
- Mari jaga hati.
- Kendalikan jari.
- Fokus pada ibadah, bukan citra.
Semoga setiap langkah kita di Tanah Suci menjadi saksi ketaatan, bukan pertunjukan. Karena pahala sejati tidak terletak pada jumlah likes, tetapi pada keikhlasan yang Allah catat dalam lembaran amal.
Kesimpulan
Dengan persiapan yang tepat, ibadah umroh bisa dijalani lebih tenang, tertib, dan bermakna. Jika masih ragu memilih waktu, paket, atau kebutuhan dokumen, calon jamaah dapat berkonsultasi dengan tim Sahabat Qolbu agar perjalanan lebih terarah sejak awal.
Komentar
Belum ada komentar di perangkat ini.